April 24, 2026

Ungkap Sebab

Sumber Informasi Terpercaya

Gelombang Tinggi Rendam 500 Hektare Sawah Petani

ungkapsebab.com, BERITA PANGANDARAN.  Cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir menyebabkan gelombang tinggi yang mengakibatkan lebih dari 500 hektare sawah di Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, terendam air laut. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi petani, terutama karena sebagian besar padi sudah mendekati masa panen.

Limpasan air laut melanda lahan pertanian di tiga Desa yakni, Legokjawa, Batumalang, dan Masawah sejak Sabtu, (08/03/2025). Pasang air laut yang lebih tinggi dari biasanya membuat air asin masuk ke pesawahan melalui aliran sungai, merendam tanaman padi yang hampir siap dipanen.

Salah satu petani yang terdampak, Asep Irfan Alawi mengatakan bahwa kondisi ini sudah berlangsung selama beberapa hari. Ia bersama petani lainnya telah berusaha mengurangi dampaknya semampu mereka.

“Kami tidak punya pilihan lain. Kalau dibiarkan, padi yang hampir panen bisa rusak semua,” ujarnya saat ditemui di sawahnya, pada Jumat, (07/03/2025) malam.

Air asin yang masuk ke lahan pertanian tidak hanya merendam padi, tetapi juga berisiko merusak kesuburan tanah. Para petani khawatir dampaknya tidak hanya dirasakan dalam satu musim panen, tetapi juga dalam jangka panjang.

Tanah yang terpapar air asin membutuhkan waktu untuk kembali subur, yang berarti mereka bisa kehilangan sumber penghasilan untuk waktu yang lebih lama.

Menurut Asep, air laut mulai merembes ke sawah sejak beberapa hari lalu dan semakin parah setelah pasang tinggi. Ia menuturkan bahwa air asin yang menggenang membuat pertumbuhan padi terhambat dan bisa menyebabkan tanaman mati sebelum dipanen.

“Air laut masuk melalui sungai, lalu meluap dan menggenangi sawah. Kalau dibiarkan, tanahnya bisa rusak dan tidak bisa ditanami lagi dalam waktu dekat,” katanya.

Menghadapi kondisi ini, para petani terpaksa bekerja ekstra. Dengan alat seadanya, mereka menggali pasir dan membuat tanggul darurat untuk mengalirkan kembali air ke laut. Demi menyelamatkan padi yang tersisa, mereka rela bekerja hingga larut malam.

“Kami bekerja sampai malam karena kalau tidak segera ditangani, padi bisa mati. Tapi usaha ini berat karena air terus naik,” tutur Asep.

Beberapa petani lain juga mengaku kewalahan menghadapi kondisi ini. Mereka berharap ada cara yang lebih efektif untuk mengatasi intrusi air laut, terutama karena banjir rob seperti ini bukan pertama kali terjadi.

Seorang petani lain, Dedi, mengatakan bahwa selain merendam tanaman, air asin juga membuat tanah menjadi lebih keras dan sulit diolah. Ia khawatir, jika tidak ada bantuan atau solusi dari pemerintah, lahan pertanian di wilayahnya akan semakin sulit untuk ditanami di masa depan.

Dedi berharap pemerintah daerah segera turun tangan. Mereka meminta bantuan, baik dalam bentuk bibit baru maupun teknologi pencegahan intrusi air laut agar kejadian serupa tidak terus berulang.

“Kalau hanya mengandalkan tenaga kami sendiri, ini sangat berat. Kami butuh bantuan, setidaknya untuk memperbaiki lahan yang terdampak,” katanya.

BACA JUGA: Dishub Menggelar Dialog Bersama PT. KAI dan Masyarakat Benteng

Selain itu, mereka juga menginginkan adanya tanggul permanen atau sistem pengairan yang lebih baik agar air laut tidak lagi masuk ke pesawahan. Tanpa intervensi yang tepat, mereka khawatir bencana ini akan terus terjadi dan membuat mereka kehilangan sumber penghidupan.

Sementara itu, cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Para petani hanya bisa berharap situasi segera membaik agar mereka tidak mengalami kerugian yang lebih besar.

“Kejadian ini seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah daerah untuk segera mencari solusi jangka panjang. Tanpa langkah konkret, ancaman gagal panen tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga pada ketahanan pangan dan ekonomi di Pangandaran,” pungkasnya. (KMP/ungkapsebab.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *