Puluhan Domba Tewas, Warga Pangandaran Resah
ungkapsebab.com, BERITA PANGANDARAN. Serangan anjing liar di Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, pada Senin, (17/02/2025) kembali membuat warga resah, terutama para peternak domba. Sejak awal 2025, puluhan ekor domba dilaporkan tewas akibat serangan tersebut.
Kejadian ini bahkan sempat viral di media sosial dengan narasi “domba dimangsa ajag,” yang memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat. Menanggapi situasi ini, Pemerintah Desa Cimerak mengadakan musyawarah bersama tokoh masyarakat untuk mencari solusi.
Kepala Desa Cimerak, Budiaman, menyampaikan bahwa salah satu keputusan dalam pertemuan tersebut adalah mewajibkan pemilik anjing untuk memberi tanda khusus pada peliharaannya.
“Pemilik anjing harus memberi tanda pita merah dan tidak melepasliarkannya. Jika ada anjing berkeliaran tanpa tanda itu, akan langsung ditindak,” ujarnya.
Tak hanya di Cimerak, serangan anjing liar juga terdapat di Desa Sukajaya. Budiaman mengaku pihaknya masih menunggu laporan lengkap terkait jumlah domba yang menjadi korban di wilayah tersebut.
“Kami berharap ini kejadian terakhir, jangan sampai ada korban lagi,” tambahnya.
Polisi pun turun tangan untuk mengatasi masalah ini. Kapolsek Cimerak, Iptu Ridwan, membenarkan bahwa laporan serangan anjing liar terus berdatangan. Data sementara menunjukkan setidaknya 19 ekor domba telah menjadi korban.
“Begitu mendapat informasi dari warga, anggota kami langsung turun ke lapangan. Kami lakukan patroli sekaligus memberi imbauan kepada peternak agar lebih waspada,” ungkapnya.
Ridwan juga menekankan bahwa pemilik anjing harus bertanggung jawab terhadap peliharaannya. Jika anjing dilepasliarkan dan menyebabkan kerugian bagi peternak, konflik antara warga bisa terjadi.
Bagi peternak, serangan anjing liar ini bukan hanya ancaman bagi ternak mereka, tetapi juga menyebabkan kerugian finansial yang besar. Asep (47), seorang peternak, mengaku kehilangan lima ekor domba dalam sebulan terakhir.
“Setiap pagi selalu ada domba mati di kandang, lehernya robek. Kami sudah berusaha menjaga, tapi anjing-anjing itu datang tengah malam,” keluhnya.
Peternak lain, Dedi (52), menambahkan bahwa jika situasi ini dibiarkan, banyak peternak bisa mengalami kebangkrutan.
“Modal beli domba itu tidak sedikit. Kalau terus-terusan habis dimangsa anjing, kami bisa rugi besar,” ujarnya.
Ketua RT setempat, Rahmat, menilai bahwa penanganan masalah ini harus lebih sistematis. Ia berpendapat pemerintah desa sebaiknya bekerja sama dengan dinas terkait untuk menangkap dan mengevakuasi anjing liar ke tempat yang lebih aman.
“Jika hanya warga yang terlibat ini akan sulit diatasi. Perlu adanya pihak berwenang untuk menangani anjing-anjing liar ini dengan cara yang lebih efektif,” katanya.
BACA JUGA: MBG Ciamis, Program Sosial dengan Tantangan Besar
Pemerintah Desa Cimerak akan terus memantau situasi dan memastikan kebijakan yang telah disepakati berjalan dengan baik. Budiaman menegaskan bahwa keseimbangan antara pemilik ternak dan pemilik anjing harus dijaga.
“Kami tidak ingin ada konflik baru di masyarakat. Yang penting semua patuh pada aturan agar situasi tetap aman,” pungkasnya.
Keseimbangan antara kehidupan manusia dan satwa liar perlu dikelola dengan baik. Jika tidak ada langkah konkret, bukan tidak mungkin teror anjing liar ini akan terus berulang dan semakin meresahkan warga. (KMP, ungkapsebab.com)
