April 24, 2026

Ungkap Sebab

Sumber Informasi Terpercaya

Hari Lahir Pancasila, Tapi Sudah Dihayati?

ungkapsebab.com, BERITA CIAMIS. Pemerintah Kecamatan Pamarican menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila tingkat kecamatan tahun 2025 pada Senin, (02/05/2025). Bertempat di halaman SMP Negeri 4 Pamarican, Desa Sukamukti, kegiatan ini berlangsung dengan penuh khidmat dan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari Forkopimcam, kepala desa, guru, siswa, hingga tokoh masyarakat.

Pancasila Bukan Sekadar Simbol

Dalam sambutannya, Pelaksana Tugas (Plt) Camat Pamarican, Agus Taofik, S.Si., M.T., menekankan bahwa Pancasila bukan hanya dokumen sejarah atau bagian dari teks konstitusi. Ia menyampaikan bahwa Pancasila adalah jiwa bangsa, pedoman moral, dan arah perjuangan menuju keadilan dan kesejahteraan.

“Setiap 1 Juni, kita tidak hanya memperingati lahirnya dasar negara, tetapi juga harus meneguhkan kembali komitmen terhadap nilai-nilai luhur Pancasila,” ujar Agus di hadapan peserta upacara.

Agus menyampaikan bahwa pemahaman terhadap Pancasila perlu dibumikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Torleransi harus tetap dalam bingkai konstitusi dan semangat kebangsaan.

“Kita tidak ingin Pancasila hanya dibaca saat upacara. Kita ingin Pancasila hidup dalam tindakan, dalam kebijakan, dan dalam cara kita memperlakukan sesama,” tegas Agus.

Tantangan Zaman dan Urgensi Menjaga Ideologi

Dalam amanatnya, Agus juga menyoroti tantangan besar yang sedang dihadapi bangsa, khususnya generasi muda. Ia menyebut bahwa globalisasi dan digitalisasi telah membawa pengaruh luar yang tidak semuanya sejalan dengan nilai Pancasila.

“Kita menghadapi disinformasi, ekstremisme, dan intoleransi yang merusak persatuan. Ini saatnya kita kembali pada Pancasila, sebagai benteng ideologis bangsa,” tegasnya.

Pernyataan ini menunjukkan adanya kegelisahan sekaligus ajakan serius agar masyarakat tidak lengah terhadap ancaman ideologis yang datang secara halus maupun terang-terangan.

Pancasila sebagai Rumah Keberagaman

Lebih lanjut, Agus mengajak masyarakat untuk melihat Pancasila sebagai rumah besar yang mempersatukan perbedaan. Keberagaman suku, agama, ras, budaya, dan bahasa bukanlah sumber konflik jika kita kembali kepada nilai-nilai Pancasila.

Menurut Agus, keberagaman bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dirayakan. Namun ia juga menekankan bahwa toleransi tidak berarti membiarkan penyimpangan nilai.

Agus menyampaikan harapan besar terhadap generasi muda dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Ia menilai bahwa kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi tidak akan berarti tanpa landasan moral yang kuat.

BACA JUGA: Paskibraka 2024 Selesaikan Tugas, Siap Jadi Duta Pancasila

“Kita ingin Indonesia maju, bukan hanya dalam teknologi, tapi juga dalam budi pekerti. Kita ingin adil, bukan hanya secara statistik, tapi dalam kenyataan yang dirasakan rakyat,” ucapnya.

Seruan Aksi Nyata, Bukan Seremonial

Upacara ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, melainkan juga panggilan untuk aksi nyata. Agus mengajak seluruh komponen masyarakat menjadikan Pancasila sebagai laku hidup, bukan sekadar hafalan teks.

“Peringatan Hari Lahir Pancasila ini menjadi pengingat bahwa ideologi bukanlah warisan beku, tapi harus terus dirawat, dijaga, dan diterjemahkan dalam kebijakan serta perilaku masyarakat,” pungkasnya. (Kaswanto/ungkapsebab.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *