Pangandaran Belum Adil dalam Pendidikan
ungkapsebab.com, BERITA PANGANDARAN. Kabupaten Pangandaran, meskipun tergolong sebagai daerah otonom yang masih muda, telah menunjukkan geliat positif di sektor pendidikan. Banyak pihak mengapresiasi kemajuan ini, namun di balik capaian tersebut, tantangan mendasar masih membayangi, khususnya terkait pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan.
Ketimpangan Masih Menjadi Luka Lama
“Kami menemukan perbedaan mencolok antara sekolah di pusat kecamatan dengan yang ada di pinggiran. Ini bukan hal baru, tapi belum juga ada penyelesaian menyeluruh,” ujar seorang pengawas sekolah di Pangandaran, pada Sabtu (03/05/2025).
Pernyataan tersebut mencerminkan realitas yang harus dihadapi pemerintah dan masyarakat: ketimpangan kualitas pendidikan yang belum teratasi.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa akses terhadap guru berkualitas, fasilitas belajar, dan teknologi pendidikan masih terpusat di wilayah tertentu saja. Banyak sekolah di daerah pelosok yang harus bertahan dengan bangunan seadanya dan jumlah guru yang terbatas. Akibatnya, pencapaian akademik siswa pun tidak merata.
Kesejahteraan Guru, Masih di Titik Kritis
Masalah kesejahteraan tenaga pendidik pun belum menemukan titik terang. Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Pangandaran, Ahmad Irfan Alawi, menyampaikan bahwa “banyak guru honorer belum mendapat penghargaan yang layak, padahal mereka menjadi ujung tombak pendidikan di daerah.” Ini bukan sekadar soal gaji, tetapi tentang pengakuan atas kontribusi mereka.
Minimnya insentif dan jenjang karier yang jelas membuat sebagian guru kehilangan semangat. Sementara itu, tuntutan terhadap kualitas pembelajaran terus meningkat. Jika ini terus dibiarkan, kualitas pendidikan tidak akan mengalami lompatan yang signifikan.
Langkah Strategis: Tidak Bisa Ditunda
Di tengah keterbatasan anggaran, Pangandaran tidak punya banyak pilihan selain mengambil langkah-langkah cerdas dan strategis. Pemerintah daerah didorong untuk memperkuat kemitraan dengan pemerintah pusat, provinsi, dan sektor swasta. Bentuk kerja sama ini bisa dalam penyediaan fasilitas, pelatihan guru, hingga pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan lokal.
Pelatihan berkelanjutan bagi guru menjadi kunci. Selain meningkatkan kompetensi, pelatihan ini juga harus diikuti dengan sistem insentif berbasis kinerja. “Guru yang bekerja maksimal harus dihargai secara nyata,”ujar seorang kepala sekolah di Kecamatan Langkaplancar.
Fokus pada Pendidikan Karakter dan Digital
Pendidikan di Pangandaran tidak hanya bicara soal angka, tetapi juga tentang karakter. Pendidikan agama dan pembentukan etika menjadi pilar utama dalam visi pembangunan daerah. Selain itu, literasi digital sejak dini menjadi keharusan. Generasi muda Pangandaran harus disiapkan menghadapi dunia kerja dan sosial yang terus berubah.
BACA JUGA: Ketua DPRD Soroti Mandeknya Infrastuktur
Untuk itu, pemetaan kebutuhan pendidikan berbasis data harus menjadi kebijakan utama. Tanpa data yang akurat, kebijakan hanya akan bersifat tambal sulam dan tidak berkelanjutan.
Pendidikan adalah Kunci Masa Depan
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa masa depan Pangandaran ditentukan oleh keberhasilan sektor pendidikannya hari ini. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha menjadi fondasi utama. Dengan arah yang jelas dan langkah yang tegas, pendidikan di Pangandaran bisa menjadi model bagi daerah lain. Kini, saatnya tidak hanya bicara, tapi bertindak. (Johan/ungkapsebab.com)
