Warisan Budaya, Tradisi Jamasan Pusaka Jambansari Ciamis
ungkapsebab.com, BERITA CIAMIS. Tradisi budaya Jamasan Pusaka kembali digelar secara khidmat di Jambansari, Kabupaten Ciamis. Kegiatan tahunan ini bukan hanya menjadi upaya pelestarian warisan budaya leluhur Tatar Galuh, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antar sesama serta dengan alam semesta. Minggu, (14/09/2025)
Acara ini turut dihadiri oleh perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Ciamis. Sekretaris Dispora, Hendri Ridwansyah, ST, MM, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.
Prosesi Jamasan merupakan ritual pembersihan pusaka yang dilakukan secara simbolis dan sarat makna. Dalam pelaksanaannya, berbagai perlengkapan adat dipersiapkan, mulai dari sesaji hingga simbol-simbol filosofis. Sesaji yang dihadirkan bukan sebagai persembahan, melainkan lambang pengajaran hidup.
Beberapa sesaji seperti bubur merah putih melambangkan keseimbangan, rujak asem serta kopi pahit mencerminkan manis dan getirnya kehidupan, sementara nyiru buleud menjadi simbol pentingnya peran perempuan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.
Menurut Nandang Samada Putra, juru kunci Situs Jambansari, tradisi ini merupakan bagian dari tata cara adat Kasundaan yang menekankan pentingnya menjalin hubungan baik tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan seluruh ciptaan Tuhan — binatang, tumbuhan, dan alam sekitar.
“Manusia itu khalifah di bumi. Dari sejak Nabi Adam hingga sekarang, ajaran ini diwariskan melalui budaya. Jadi jamasan ini bukan sekadar membersihkan pusaka, tapi juga menyucikan kembali nilai-nilai kehidupan,” jelas Nandang.
“Alhamdulillah, agenda Jamasan Pusaka di Situs Jambansari berjalan lancar. Ini menjadi bukti kekayaan budaya Tatar Galuh yang diwariskan dari para leluhur, khususnya peninggalan dari Raden Adipati Arya Kusuma di Ningrat,” ujarnya.
Hendri juga menekankan bahwa tradisi ini bukan hanya tentang benda pusaka, melainkan tentang pelestarian nilai-nilai kehidupan. Ia mengutip pepatah Sunda kuno: “Aya Baheula, aya ayeuna, Henteu aya baheula, moal aya ayeuna,” yang berarti “Ada masa lalu, maka ada masa kini. Tanpa masa lalu, takkan ada masa kini.”
BACA JUGA: Milangkala ke -6 Baraya NU Wujudkan Indahnya Berbagi
Pihak Dispora berharap tradisi ini terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda. “Kehadiran anak-anak dalam kegiatan ini adalah kebahagiaan tersendiri. Ini pertanda baik agar budaya tidak punah dan terus hidup di tengah masyarakat,” tambahnya.
Dengan simbol-simbol seperti bunga tujuh rupa yang melambangkan keharuman sikap dalam tujuh hari dan air dari tujuh mata air yang menyatukan keberkahan, jamasan pusaka di Jambansari menjadi wujud nyata harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. (Sari, ungkapsebab.com)
