April 24, 2026

Ungkap Sebab

Sumber Informasi Terpercaya

Leuwi Pamipiran Ciamis, Wisata Alam yang Kian Diminati

 

 

ungkapsebab.com, BERITA CIAMIS. Objek wisata alam Leuwi Pamipiran yang berada di Desa Tanjungsari, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, kini semakin populer. Aliran Sungai Cipanyesehan yang jernih, udara sejuk khas pedesaan, serta panorama alami membuat kawasan ini ramai didatangi wisatawan, baik dari sekitar Ciamis maupun dari luar daerah. Banyak pengunjung menyebut bahwa suasana di lokasi terasa segar sekaligus menenangkan.

Keasrian alam Leuwi Pamipiran tidak hanya menjadi daya tarik utama, tetapi juga menyimpan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat setempat mengenal nama Pamipiran dari kebiasaan warga tempo dulu. Ketika menyeberangi sungai dengan arus deras, mereka memilih berjalan di tepian. Dalam bahasa Sunda, kebiasaan itu disebut “mipir”. Dari sanalah nama Pamipiran muncul dan tetap digunakan hingga sekarang.

Selain asal-usul nama, Leuwi Pamipiran juga menyimpan legenda tentang Nyai Putri, tokoh perempuan yang diyakini pernah singgah dan beristirahat di kawasan tersebut. Cerita ini masih terus diceritakan warga sebagai bagian dari kearifan lokal yang dipelihara lintas generasi.

“Cerita-cerita seperti ini membuat Leuwi Pamipiran semakin unik dan berbeda dengan tempat lain,” kata Muslih Udin, Ketua Kelompok Pengelola Wisata Bubuay Ligar.

Sejak resmi dibuka pada 2024, keindahan Leuwi Pamipiran dipadukan dengan cerita mistis yang menyertainya. Ada kisah seorang pengunjung asal Tasikmalaya yang disebut-sebut bisa kembali berjalan setelah berendam selama tiga jam di aliran sungai. Peristiwa itu membuat sebagian masyarakat menyamakan air Leuwi Pamipiran dengan air Zamzam yang diyakini membawa keberkahan. Walau sulit dibuktikan secara ilmiah, keyakinan tersebut menjadi bagian dari daya tarik tersendiri. Banyak wisatawan yang datang bukan hanya untuk menikmati alam, tetapi juga penasaran dengan kisah-kisah tersebut.

Pengelolaan Leuwi Pamipiran dilakukan melalui kemitraan antara masyarakat dan Perhutani sejak 2024, dengan dukungan dari Pemerintah Desa Tanjungsari. Sejumlah fasilitas penunjang dibangun, mulai dari gazebo, musala, kamar mandi, hingga penyediaan pelampung keselamatan. Harga tiket masuk pun terbilang terjangkau, yakni Rp5.000 per orang dengan biaya parkir Rp3.000. Dengan tarif tersebut, kawasan ini mampu menarik 200 pengunjung setiap akhir pekan, sementara pada hari biasa sekitar 30 hingga 50 orang.

Dampak ekonomi dari berkembangnya wisata ini cukup terasa. Banyak warga yang membuka usaha warung kecil, jasa transportasi, hingga parkir kendaraan. “Alhamdulillah, keberadaan Leuwi Pamipiran membawa manfaat bagi masyarakat sekitar. Kami ingin ini terus berkembang dan menjadi kebanggaan Ciamis,” ujar Muslih Udin dengan nada penuh syukur.

Rencana ke depan tidak berhenti pada penyediaan fasilitas sederhana. Pengelola bersama Perhutani dan pemerintah desa menargetkan Leuwi Pamipiran menjadi bagian dari desa wisata. Pembangunan akses jalan, bumi perkemahan, arboretum hutan pendidikan, hingga wahana air masuk dalam konsep pengembangan. Rusdiana, perwakilan dari Perhutani, menegaskan bahwa Tanjungsari termasuk salah satu destinasi paling potensial. Menurutnya, pola pengelolaan dilakukan berdasarkan Peraturan Direksi Nomor 21 Tahun 2023 tentang kemitraan.

“Sinergi ini tidak hanya mendorong manfaat ekonomi, tetapi juga menjaga kearifan lokal,” tuturnya.

BACA JUGA: MCM PORPROV XV 2025 Zona Priangan Timur Digelar 

Meski begitu, akses jalan menuju lokasi masih menjadi tantangan tersendiri. Kendaraan roda empat cukup sulit menjangkau kawasan wisata ini. Perhutani bersama masyarakat setempat berkomitmen memperbaiki infrastruktur agar pengunjung lebih mudah datang. Pemerintah desa pun mulai merancang perbaikan jalan sebagai langkah awal pengembangan desa wisata.

Banyak pihak optimistis, jika pengelolaan dilakukan secara konsisten, Leuwi Pamipiran dapat menjadi destinasi unggulan di Kabupaten Ciamis. Potensi alam yang indah, cerita rakyat yang melekat, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi modal utama. Wisata ini tidak hanya memberi manfaat ekonomi, tetapi juga melestarikan budaya dan tradisi lokal. Dengan kolaborasi berbagai pihak, Leuwi Pamipiran diyakini bisa menjadi ikon wisata alam sekaligus edukasi budaya di Tatar Galuh Ciamis. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *