Juni 12, 2026

Ungkap Sebab

Sumber Informasi Terpercaya

Ciamis Dorong Pertanian Ramah Lingkungan

ungkapsebab.com.BERITA CIAMIS. Pemerintah Kabupaten Ciamis terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong transformasi sektor pertanian menuju arah yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Upaya tersebut diwujudkan melalui penguatan gerakan pertanian organik, pemanfaatan kearifan lokal, serta peningkatan kesadaran petani akan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Salah satu langkah konkret dalam gerakan ini adalah kegiatan panen simbolis padi organik yang digelar di Desa Banjarsari, Kecamatan Banjarsari, pada Selasa (22/4/2025).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari agenda “Pelatihan Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan” yang dilanjutkan di Desa Kalapasawit, Kecamatan Lakbok.

Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, Andang Firman Triyadi, dalam sambutannya menekankan bahwa menjaga kelestarian tanah bukan hanya sebagai kewajiban ekologis, tapi juga sebagai wujud rasa syukur atas anugerah Tuhan.

“Kita diberi tanah yang subur, tinggal bagaimana cara kita memperlakukannya. Pertanian tak bisa hanya soal produksi tinggi, tapi harus memperhatikan keseimbangan ekosistem dan masa depan,” ujarnya.

Membongkar Mitos Pupuk Organik

Andang mengakui bahwa pupuk organik dulunya dipandang mahal dan sulit dibuat. Namun kini, melalui pelatihan dan pendekatan praktis, paradigma tersebut mulai bergeser.

“Ternyata membuat pupuk organik itu murah dan bisa dilakukan siapa saja. Tinggal kemauan yang harus kita bangun bersama,” tegasnya.

Andang membantah stigma bahwa metode organik tidak seproduktif metode konvensional.

“Sejatinya tanah yang dirawat dengan pendekatan organik menjadi lebih kuat dan subur dalam jangka panjang,” ucapnya.

Ciamis Sebagai Lumbung Padi Berkelanjutan

Andang menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kelestarian alam, mengingat posisi strategis Ciamis sebagai salah satu lumbung padi di Jawa Barat.

“Kabupaten Ciamis merupakan lumbung padi yang harus tetap produktif. Namun demikian, kita tidak boleh merusak kelestarian lingkungan. Maka dari itu, penggunaan pupuk organik sangat disarankan,” jelasnya.

Dukungan Komunitas: GACCORS sebagai Katalisator Gerakan

Perubahan pola pikir dan praktik pertanian ini juga didorong oleh kalangan praktisi, salah satunya Alik Sutaryat, pendiri Gabungan Aksi Ciamis Cinta Organik Sejati (GACCORS). Ia menyoroti dampak negatif dari ketergantungan petani terhadap pupuk dan pestisida kimia.

“Petani kita terlalu tergantung pada pupuk pabrikan. Hasilnya stagnan bahkan menurun. Kami ingin kembalikan kontrol ke tangan petani lewat pertanian yang mandiri dan berbasis lokal,” ujar Alik.

Sejak berdiri delapan bulan lalu, GACCORS telah mengembangkan lahan percontohan seluas 23 hektare di 17 kecamatan, didukung oleh 46 petani yang bergerak secara swadaya.

“Hasil panen rata-rata mencapai 9 ton per hektare. Ini membuktikan bahwa pendekatan organik sangat potensial,” lanjutnya.

Lebih dari Sekadar Hasil: Pemberdayaan dan Kemandirian Petani

Alik juga menekankan bahwa pertanian organik bukan hanya soal hasil panen, tapi juga menyangkut aspek sosial dan ekonomi. Ia mencontohkan petani seperti H. Udin yang berhasil memproduksi dan memasarkan pupuk kompos secara mandiri.

“Kalau petani bisa mengelola jerami dan bahan organik dengan baik, mereka tidak perlu tergantung pada pupuk pabrikan. Sistem ini lebih hemat dan menjaga kesuburan tanah jangka panjang,” jelasnya.

Andang berharap pemerintah lebih serius dalam memperluas jangkauan pelatihan dan menciptakan kader-kader petani organik yang siap menjadi agen perubahan.

“Transformasi tidak cukup hanya dengan penyuluhan. Harus ada regenerasi petani organik yang betul-betul memahami dan mau bergerak dari bawah,” tandas Alik.

Menuju Model Nasional Pertanian Berkelanjutan

Dengan sinergi antara pemerintah daerah dan komunitas petani, Ciamis menunjukkan langkah progresif dalam membangun sistem pertanian yang sehat, mandiri, dan lestari.

“Dengan inisiatif ini pun kemungkinan menjadi model percontohan nasional dalam menghadapi tantangan krisis pangan dan kerusakan lingkungan secara bersamaan,” pungkasnya (Acip/ungkapsebab.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *