Juni 12, 2026

Ungkap Sebab

Sumber Informasi Terpercaya

Krisis Air di Cekdam Singapraya Hambat Lahan Pertanian

ungkapsebab.web.id, BERITA CIAMIS.  Kekeringan yang melanda Cekdam Singapraya di Desa Kadupandak, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, memicu kekecewaan di kalangan petani. Debit air yang tiba-tiba menurun drastis menyebabkan pasokan irigasi ke area pertanian terhenti selama beberapa hari terakhir.

Sedikitnya 170 hektare lahan terancam tidak mendapatkan suplai air, terutama di wilayah Dusun Karangpasari yang bergantung penuh pada aliran cekdam tersebut sebagai sumber utama pengairan sawah dan kebun.

Menurut warga setempat, Didi, bahwa kekeringan ini diduga akibat perbaikan mandiri oleh salah seorang warga pemegang kunci palang pintu air. Palang pintu irigasi semula dalam kondisi melengkung, sehingga warga mencoba memperbaikinya sendiri untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.

“Katanya palang pintu irigasi itu melengkung, jadi dia betulkan sendiri supaya tidak makin parah. Tapi saat diperbaiki, air jadi bocor dan debitnya turun drastis,” jelas Didi pada Senin, (01/12/2025).

Didi menambahkan bahwa, langkah perbaikan itu dilakukan karena warga khawatir kerusakan palang pintu bisa menimbulkan risiko besar. Jika pintu air patah dan jebol, limpasan air dikhawatirkan akan merendam lahan pertanian hingga permukiman di hilir.

“Namun upaya mencegah bahaya tersebut justru berdampak langsung pada berhentinya aliran air selama beberapa hari. Aktivitas petani benar-benar terganggu, sawah yang harusnya terairi jadi kering,” tambah Didi.

Dampak kekeringan turut dirasakan di wilayah Desa Kaso Kadupandak dan Dusun Karangsari, daerah yang selama ini menjadi penerima aliran irigasi dari Cekdam Singapraya. Ironisnya, di kawasan itu tengah berjalan program ketahanan pangan yang mencakup sektor pertanian dan perikanan.

Gangguan suplai air tentu menghambat jalannya program tersebut sekaligus mengancam produktivitas warga yang hidup dari lahan pertanian dan kolam budidaya.

Menurut Kepala Desa Kadupandak, Jana Sujana,  penurunan debit air memang dipicu oleh perbaikan mandiri yang dilakukan warga. Tindakan tersebut dilakukan atas dasar kekhawatiran akan kerusakan besar yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

“Masyarakat takut kalau palang pintu yang sudah lama melengkung itu patah. Kalau sampai jebol, air bisa meluap dan merendam lahan warga. Jadi mereka berinisiatif memasang balok kayu kelapa sebagai penahan sementara,” jelas Jana.

Jana juga mengungkapkan bahwa kerusakan palang pintu itu sebenarnya bukan persoalan baru. Pemerintah desa telah melaporkan kondisi tersebut kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) sejak lama, namun belum ada tindak lanjut hingga kini.

“Karena tidak ada respon, warga akhirnya ambil langkah sendiri. Mereka hanya ingin mencegah hal buruk sebelum terjadi,” ungkapnya.

Jana menambahkan bahwa sumber air cekdam berasal dari mata air sekitar sehingga membutuhkan waktu beberapa hari hingga debit kembali normal pasca perbaikan.

BACA JUGA: Evi Triyanti Terima Anugerah Penghargaan Satya Lencana  

“Alhamdulillah palang pintu irigasi sekarang sudah turun, tinggal menunggu debit air naik lagi. Namun persoalan ini tidak bisa lagi ditunda karena cekdam tersebut merupakan urat nadi bagi petani di Kadupandak dan wilayah sekitar,” ujar Jana.

Warga berharap pemerintah maupun BBWS segera turun tangan menangani kerusakan pintu air secara permanen. Tanpa perbaikan, ancaman kekeringan seperti ini dikhawatirkan akan terus berulang dan menekan produktivitas petani. (Redaksi/US)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *