Bangunharja Bangun Lapangan untuk Generasi Muda
ungkapsebab.com, BERITA CIAMIS. Pemerintah Desa Bangunharja kini tengah membangun sebuah lapangan sepak bola di wilayah Ciming, Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis. Proyek ini disebut sebagai langkah strategis dalam menciptakan ruang sehat dan produktif, terutama bagi generasi muda desa.
Namun, seperti banyak proyek desa lainnya, pertanyaan yang muncul bukan hanya soal pembangunannya, melainkan tentang bagaimana lapangan ini akan dikelola dan dimanfaatkan setelah rampung. Masyarakat berharap, ini bukan sekadar proyek seremonial atau “pemotongan pita” belaka.
Janji untuk Generasi Muda
Kepala Desa Bangunharja, Carikin, menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik. “Lapangan ini bisa menjadi tempat anak-anak muda mengasah kemampuan mereka. Kami ingin mereka tumbuh dengan kegiatan yang positif,” ujarnya pada Senin, (05/05/2025).
Pernyataan tersebut menunjukkan komitmen moral dari pihak desa. Namun, publik tentu berharap janji ini tidak berhenti di level wacana. Sebab, dalam banyak kasus di daerah lain, proyek serupa akhirnya terbengkalai karena lemahnya pengelolaan pasca pembangunan.
Menurut Carikin, lokasi Ciming dipilih karena strategis dan mudah dijangkau. Ia menekankan bahwa seluruh proses pembangunan dilakukan sesuai standar teknis yang berlaku. “Kami tidak ingin ada yang setengah-setengah. Proyek ini harus selesai tepat waktu dan berkualitas,” katanya.
Dana Bukan Segalanya
Proyek ini menggunakan Dana Desa dengan nilai anggaran sekitar Rp31 juta. Di atas kertas, ini bukan jumlah kecil. Justru karena itu, masyarakat menuntut transparansi dan efisiensi dalam penggunaan anggaran.
Kritik muncul bukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai bentuk kepedulian warga terhadap uang publik. Warga ingin tahu: siapa yang bertanggung jawab jika fasilitas ini nanti rusak, sepi, atau tidak dimanfaatkan?
Apalagi Desa Bangunharja sudah memiliki klub lokal, Putra Bangun FC. Keberadaan klub ini seharusnya menjadi modal sosial untuk memanfaatkan lapangan dengan baik. Namun potensi itu akan sia-sia jika tidak dibarengi program pembinaan, jadwal kegiatan, dan pengelolaan yang terorganisir.
Lebih dari Sekadar Olahraga
Lapangan ini digadang-gadang akan menjadi ruang interaksi baru bagi seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya untuk sepak bola, tapi juga bisa digunakan untuk kegiatan olahraga lainnya.
Carikin menyebut, “Kami ingin proyek ini tidak hanya selesai, tapi juga tahan lama dan benar-benar digunakan oleh masyarakat.”
Pernyataan itu menunjukkan niat baik. Namun sebagaimana pepatah lama: niat tanpa sistem hanyalah angan-angan. Tanpa pengelolaan yang berkelanjutan, lapangan Ciming bisa saja menjadi monumen proyek yang sepi pemanfaatan.
BACA JUGA: Tingkatkan Keselamatan Pelajar, Disdik Terus Lakukan Sosialisasi
Harapan Butuh Tindakan Nyala
Pembangunan lapangan di Ciming adalah awal yang baik. Tapi pekerjaan sebenarnya justru dimulai setelah pembangunan selesai. Warga tidak hanya ingin lapangan berdiri megah, mereka ingin tempat itu dipakai, dijaga, dan memberi manfaat.
Jika pemerintah desa serius, maka harus ada sistem: pengelola yang jelas, jadwal kegiatan, program pembinaan, dan laporan berkala. Dengan begitu, Lapangan Ciming bisa benar-benar menjadi simbol perubahan, bukan sekadar simbol proyek. (Eddy/ungkapsebab.com)
