Target Eliminasi HIV 2030, Pemkab Ciamis Genjot Kolaborasi dan Edukasi Masyarakat
Pemkab Ciamis targetkan eliminasi HIV 2030
ungkapsebab.com,BERITACIAMIS, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis terus menguatkan langkah-langkah strategis dalam menanggulangi HIV. Melalui pendekatan yang menyeluruh, Pemkab menargetkan eliminasi HIV 2030 dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Penanggulangan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Edis, menyatakan bahwa sinergi antar sektor menjadi faktor kunci dalam menekan laju penyebaran HIV.
Menurutnya, dukungan dari akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat sangat penting untuk mempercepat upaya pencegahan dan pengobatan.
“Penanganan HIV tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah saja. Kolaborasi dari semua elemen sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung ODHA menjalani kehidupan yang sehat dan bebas stigma,” kata dia.
Perkuat Edukasi dan Layanan Kesehatan
Lebih lanjut, edis menjelaskan bahwa strategi penanggulangan HIV di Ciamis mencakup edukasi masyarakat, penyediaan layanan kesehatan yang mudah diakses, serta penguatan program pencegahan.
“Kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat, terutama kelompok berisiko, agar tidak ragu melakukan tes HIV,” ucapnya.
“Deteksi dini sangat penting karena pengobatan ARV dapat segera diberikan untuk menekan perkembangan virus,” jelasnya, menambahkan.
Selain itu, Pemkab Ciamis juga telah memperkuat payung hukum melalui Peraturan Bupati (Perbup) No. 75 Tahun 2023 tentang Rencana Aksi Daerah Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria.
Kebijakan ini menjadi landasan dalam memperkuat koordinasi lintas sektor dan pengembangan layanan kesehatan di tingkat daerah.
Eliminasi HIV 2030
Lebih lanjut, pemkab Ciamis menargetkan tercapainya 95-95-95 sebagai bagian dari strategi nasional penanggulangan HIV:
1. 95% ODHA mengetahui status kesehatannya,
2. 95% ODHA mendapatkan pengobatan ARV, dan
3. 95% ODHA yang menjalani terapi ARV mengalami supresi virus.
Namun, Edis juga mengakui masih ada tantangan besar, seperti rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV dan tingginya angka lost to follow-up (pasien yang berhenti menjalani pengobatan).
“Stigma dan diskriminasi menjadi kendala utama. Banyak ODHA enggan terbuka karena takut dikucilkan. Oleh karena itu, masyarakat perlu memberikan dukungan moral dan sosial agar mereka merasa diterima,” terangnya.
Kendati demikian, dengan strategi komprehensif yang terus diperkuat, Pemkab Ciamis optimistis mampu mencapai target eliminasi HIV pada tahun 2030.
“Kami tidak akan berhenti sampai HIV benar-benar bisa dikendalikan dan stigma terhadap ODHA benar-benar hilang,” pungkasnya.
